ISC APTIK 2019 ” Tantangan Kaum Milenial Dalam Mewujudkan Peradaban Kasih”

ISC APTIK adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh APTIK, dan untuk pelaksanaan tahun 2019 ini yang menjadi tuan rumah adalah Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dengan tema “Tantangan Kaum Milenial dalam mewujudkan Peradaban Kasih”
Adapun peserta ISC APTIK 2019 adalah perwakilan mahasiswa dan juga pendamping dari 21 Perguruan Tinggi Katolik di Indonesia yang berjumlah sekitar 101 orang. Dalam kegiatan tersebut para mahasiswa berkesempatan untuk mengunjungi Pesantren Tebu Ireng Jombang (Makam Gusdur) dan Gereja Posarang Kediri.

Lima Mahasiswa Universitas Katolik Widya Karya kembali terlibat dalam Intercultural Student Camp (ISC) APTIK 2019 yang dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober– 2 November 2019, mereka adalah Emmanuella Tania Oktaviana (Perwakilan BMU), Ridwan Dimas Koesnady (Perwakilan UAM Kesenian), Maria Tri Hartati Gurning (Perwakilan UAM Kerohanian Divisi Katolik), Jessy Natalia Supriyanto (Perwakilan UAM Kerohanian Divisi Kristen), Aan Al Basyarah (Perwakilan UAM Kerohanian Divisi Islam).

“kami jadi tau dan semakin mengenal lebih jauh Pesantren Tebu Ireng serta ajaran dan filosofi pluralisme yang ada di dalamnya” kata Dimas, mahasiswa perwakilan dari Unika Widya Karya Malang.

Pada malam kedua, masing – masing universitas menampilkan pentas seni dari masing – masing daerah. Universitas Katolik Widya Karya Malang sendiri menampilkan Puisi yang bertemakan Sumpah Pemuda.
Di hari terakhir, Deklarasi ISC APTIK 2019 diucapkan oleh perwakilan masing – masing Universitas. Dengan adanya kegiatan ini para peserta diharapkan mampu membangun upaya kongkrit peradaban kasih ditengah masyarakat multikultural.

-ES.BKA-

Malam Keakraban Persatuan Mahasiswa Malang (PM3) “Eratkan Solidaritas Hargai Perbedaan Demi PM3 Yang Lebih Baik”

Himpunan Mahasiswa Mesin Universitas Katolik Widya Karya Malang pada hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2019 lalu, menjadi tuan rumah kegiatan Makrab Persatuan Mahasiswa Mesin Malang (PM3). Persatuan Mahasiswa Mesin Malang (PM3) adalah salah satu organisasi ekstra kampus tingkat regional yang dikenal dan disegani di tingkat nasional. Sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kegiatan pengembangan dalam bidang keilmuan, sumber daya serta pengabdian masyarakat dalam wujud kesatuan Mahasiswa Mesin Malang Raya yang solid.

Dasar pemikiran Makab Persatuan Mahasiswa Mesin Malang (PM3) adalah akrab merupakan suatu kata yang mudah terucapkan, tetapi sulit dilakukan. Hal tersebut membuat seseorang merasa canggung dalam berkomunikasi ataupun manjalin hubungan kerjasama. Padahal salah satu kunci sebuah kesuksesan adalah seseorang mampu bekerjasama  membangun teamwork ataupun jaringan yang baik dengan berbagai pihak. Dengan adanya keakraban, bisa dipastikan kerjasama akan terbentuk, tetapi yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah bagaimana membentuk sebuah keakraban di suatu lingkungan yang serba baru. Hal inilah yang memerlukan cara dan upaya agar suasana harmonis serta rasa solidaritas dapat tercipta. Salah satunya dengan mengadakan kegiatan “Malam Keakraban (Makrab)“. Dimana dengan kegiatan ini diharapkan mampu membentuk keakraban yang menghasilkan sikap solidaritas antar sesama  Mahasiswa Teknik Mesin.

Makrab Persatuan Mahasiswa Mesin Malang (PM3) bertujuan mewujudkan dan menjalin kekeluargaan antar sesama anggota, membentuk watak mahasiswa yang memiliki integritas kepribadian yang tinggi secara mandiri, mempunyai intelektual yang baik, berprestasi, religius, serta peka terhadap sosial. PM3 juga menjadi wadah pembelajaran bagi anggotanya dalam berorganisasi untuk menebarkan manfaat dan membawa kearah kemajuan.

Persatuan Mahasiswa Mesin Malang (PM3) berada dikawasan Forum Mahasiswa Mesin Indonesia Wilayah Jawa Timur (VII-A), tepatnya berada di regional Malang yang beranggotakan seluruh Himpunan Mahasiswa Mesin Perguruan Tinggi se-Malang Raya dengan jumlah 11 institusi. Anggota PM3 terdiri dari : Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Katolik Widya Karya Malang, Universitas Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Islam Malang, Universitas Merdeka Malang, Universitas Widyagama Malang, Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Gajayana Malang, dan Universitas Islam Raden Rahmat Kepanjen Malang.

(Iga Yuswantoro, Dewan Pertimbangan PM3 2018-2019)

SASHANO FAKULTAS TEKNIK 2019 “TEKNIK BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN!”

Sashano merupakan program kerja tahunan dari Badan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Karya Malang, sebagai pembuka program pengembangan kepribadian untuk Mahasiswa Fakultas Teknik. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk acara sarasehan, sharing dan outbond yang kemudian memiliki sebutan “SASHANO”.

Sashano 2019 ini bertemakan “Teknik Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Kegiatan ini terlaksana pada tanggal 5-6 Oktober 2019, bertempat di Camping Ground Batu. Dimana kegiatan ini dikhususkan untuk Mahasiswa Baru Fakultas Teknik angkatan 2019 yang terdiri dari Prodi Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan Sistem Informasi. Kegiatan ini juga diikuti oleh Dosen, Kepala Program Studi, Dekan, dan Alumni Fakultas Teknik agar terbentuknya rasa kebersamaan dan saling melengkapi sebagai keluarga besar Fakultas Teknik.

Pemateri 1 dari kegiatan ini yaitu Bapak Dr. Agustinus Indradi, M.Pd. yang membawakan materi tentang “Teknik Bersatu Tak Bisa Dikalahkan”. Pemateri 2 yaitu Kaprodi Sistem Informasi dan Dekan Fakultas Teknik yang membawakan materi tentang self awareness. Selanjutnya, acara malam gelar talenta (Magenta) yang menjadikan suasana meriah, yang berisikan penampilan dari mahasiswa baru, dosen, dan panitia dari Sashano 2019.

IPTEK merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki mahasiswa Fakultas Teknik. Maka, dilaksanakanlah outbound  disekitar lokasi kegiatan sebagai latihan dasar peserta Sashano 2019. Untuk penanggungjawab kegiatan ini adalah Iga Yuswantoro (201631007) selaku Ketua Badan Mahasiswa Fakultas Teknik dan Andika Prasetyo Uneputty (201732002) sebagai ketua Sashano 2019 ini, memastikan bahwa tidak ada unsur kekerasan kepada peserta yang merugikan banyak pihak.

Iga Yuswantoro, Ketua BEM Fakultas Teknik UKWK

STUDIUM GENERALE “Pancasila dan Teknologi : Merumuskan Kewarganegaraan Generasi Milenial”

Senin, 30 September 2019, Unika Widya karya mengadakan Studium Generale Semester Gasal Tahun Ajaran 2019/2020 dengan tema “Pancasila dan Teknologi : Merumuskan Kewarganegaraan Generasi Milenial”. Acara dilaksanakan di Aula St. Thomas Aquino dan dimulai pada pukul 09.00 wib. Acara ini dihadiri oleh para wakil rektor, para dosen, dan 146 mahasiswa baru dari semua jurusan yang ada di Unika Widya Karya. Narasumber dalam studium generale ini adalah Ibu Dr. Karlina Supelli, M. Sc. Beliau adalah dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.

Dr. Karlina Supelli, M. Sc. lahir pada 15 Januari 1958, memiliki minat yang dalam terhadap fisika, matematika dan metafisika. Menempuh pendidikan sarjana di Departemen Astronomi, Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ITB), meraih gelar Master of Science (MSc) di bidang Space Science diraih dari University College of London (UCL), Inggris. Beliau kemudian mengambil studi lanjut bidang filsafat untuk meraih gelar Magister dan Doktor di Universitas Indonesia. Bidang penelitiannya adalah kosmologi, filsafat analitik, filsafat sains, dan hubungan antara sains dan agama. Beliau memiliki perhatian khusus pada isu-isu kemanusiaan.

Dalam sambutannya untuk membuka acara seminar dan sharing alumni ini, Rektor Unika Widya Karya, Rm. Albertus Herwanta, O.Carm., M.A. berkata bahwa layaknya membangun sebuah rumah diperlukan pondasi yang kuat,begitu pula dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa perlu dipahami dan dijadikan dasar bertindak dan berperilaku kita sebagai bangsa Indonesia. Generasi milenial yang penuh dengan kemajuan teknologi diharapkan lebih mampu berpikir secara kritis dan analitis dalam menghadapi setiap isu yang terjadi. Menutup sambutannya, Rektor Unika Widya Karya berharap agar melalui studium generale kali ini dapat bermanfaat bagi semua peserta dan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang berkarakter.

Dalam kuliah tamu ini, Dr. Karlina Supelli, M. Sc., menjelaskan bahwa seseorang perlu melakukan suatu refleksi yaitu membuat jarak dengan diri sendiri untuk membedakan cara berpikir subyektif dan obyektif, sehingga kita dapat meninjau secara kritis setiap keputusan dan tindakan yang ada. Sudut pandang yang obyektif membantu sesorang dalam menemukan kebenaran dan mengurangi konflik yang memecah belah persatuan. Indonesia, dengan beragam perbedaan suku, ras, adat, dan budaya disatukan oleh suatu dasar yaitu Pancasila. Pancasila adalah contoh nyata hasil pertimbangan yang obyektif, mengesampingkan seluruh subyektivitas kepentingan pribadi maupun kelompok, menyatukan keragaman untuk persatuan Indonesia dalam Bhineka Tunggal Ika.

Generasi milenial adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi digital. Kemudahan  informasi memungkinkan akses fakta dan opini yang berbeda – beda dengan kemungkinan efek yang positif atau negatif. Generasi milenial diharapkan mampu berpikir dan bertindak obyektif dengan dasar pemahaman Pancasila, sehingga dapat menggunakan teknologi seperti sosial media untuk menyebarluaskan hal-hal positif, meredam konflik dan  membawa kebaikan bagi masyarakat Indonesia. Perguruan tinggi juga berperan dalam membentuk karakter warga negara dengan cara mengajarkan kejujuran ilmiah, semangat mencari kebenaran, tidak mudah percaya, terbuka terhadap kritik, setia mencari wakta yang relevan, hormat terhadap kebebasan berpikir dan menunjukkan tanggung jawab kepada masyarakat.

Kegiatan selanjutnya adalah sesi diskusi panel antara mahasiswa dengan narasumber. Mahasiswa dengan antusias ikut serta berdiskusi, mengangkat isu-isu hangat yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Seusai diskusi panel, kegiatan selanjutnya adalah penyerahan tali asih dari universitas kepada narasumber. Acara ditutup dengan pesan dari Dr. Karlina, M. Sc., kepada para mahasiswa yaitu: “Bermimpilah besar, mimpi tentang masa depan, mimpi tentang bangsa Indonesia.”
Riwidya Tri Oktavia, Dosen Manajemen UKWK-

SAPAMABA 2019 “Cinta Budaya dan Karakter Kebangsaan”

Malang – Universitas Katolik Widya Karya, pada tahun ajaran baru ini mengadakan kegiatan SAPAMABA (Serangkaian Acara Pendampingan Awal Mahasiswa Baru) yang diselenggarakan pada hari Selasa (27/8) sampai dengan Jumat (30/8) dengan mengangkat tema “Pendidikan Cinta Budaya dan Karakter Kebangsaan”. Panitia SAPAMABA 2019 berupaya memberikan nilai cinta Budaya dan memiliki Karakter kebangsaan. Hal ini selaras dengan semngat kemerdekaan di bulan Agustus.

            “Kami melihat bahwa generasi muda saat ini perlu ditanamkan nilai cinta budaya serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat untuk pembentukan karakter masing-masing.” ujar Nendra Prasetya  Steering Committee SAPA MABA 2019. Cinta budaya, menurut Nendra, tidak selalu harus ikut dalam sanggar tari misalnya, cinta budaya bisa berupa memakai batik itu sudah merupakan salah satu cinta budaya yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita.

            Semangat cinta budaya tahun ini ditampilkan melalui dress code Batik. Daniel selaku ketua Organizing Committee mengatakan, “Cinta budaya pun kami tanamkan melalui pemakaian nama candi-candi yang ada di Indonesia sebagai nama kelompok.”

                Kegiatan ini diikuti oleh 153 peserta dari bebagai daerah di Indonesia yang sekaligus disambut oleh Bapak Heru Mulyono, SIP. MT selaku Camat Kecamatan Klojen, Kota Malang. Beliau dalam sambutannya mengatakan bahwa sangat mengapresiasi kegiatan SAPAMABA ini dan mendukung penuh untuk kegiatan-kegiatan yang ada di kampus ini. serta beliau mengharapkan mahasiswa di Widya Karya bisa mempraktikannya di kantor Kecamatan sebagai program pengembangan studi dan softskill.             Minggu (1/9) lalu menjadi hari terakhir kegiatan SAPAMABA 2019 yang ditutup dengan kegiatan Inaugurasi sekaligus penghunjung acara. Inaugurasi ini dilaksakan pukul 16.00 – 21.00 WIB di halaman depan kampus. Beberapa aktivitas yang dilakukan adalah doa bersma, penampilan tiap fakultas, seremonial pemotongan tumpeng, makan malam bersama, akustik, penobatan King & Queen, serta penyerahan hadiah. -VR17-

Tim Accounting Warrior Bertanding di APA Champ 2019

Malang – Tim Accounting Warrior sebagai perwakilan mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Widya Karya Malang pada tanggal 3-4 September 2019 lalu mengikuti salah satu lomba yang diadakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merupakan asosiasi profesi akuntan terbesar di Indonesia juga anggota International Federation of Accountants (IFAC) tersebar di 130 negara. Asosiasi tersebut terus berkomitmen untuk mengembangkan potensi generasi muda Akuntan Indonesia dalam mencapai posisi terbaik dalam perjalanan karirnya.

Sebagai bentuk komitmen tersebut IAI menyelenggarakan Aspiring Professional Accountants Festival (APA Fest 2019) dengan salah satu sub lomba adalah Aspiring Professional Accountants Championship (APAChamp 2019). Kegiatan Kompetisi Akuntansi Nasional tersebut ditujukan kepada Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Tujuan IAI menyelenggarakan APA CHAMP 2019 adalah untuk:

  1. Mempersiapkan Mahasiswa Akuntansi menjadi akuntan profesional masa depan;
  2. Medorong Mahasiswa Akuntansi untuk lebih mencintai profesi akuntansi bias mempersiapkan masa depan serta mengusai perubahan;
  3. Mengembangkan keterampilan kerja, yang dapat membantu mahasiswa untuk membangun rasa percaya diri, pengetahuan dan pengalaman;
  4. Terlibat dalam tantangan bisnis yang menarik yang menguji keterampilan mahasiswa dan memperluas pengetahuan di bidang akuntansi, keuangan dan bisnis;
  5. Mengembangkan kemampuan networking dengan mahasiswa akuntansi dari Universitas lain maupun dengan kalangan akuntan profesional yang hadir.
Peserta dari UKWK berfoto bersama Ketua BPK RI
(Prof. Moermahadi Soerja Djanegara)

Jurusan / Prodi Akuntansi Universitas Katolik Widya Karya Malang (UKWK) sebagai salah satu program studi favorit di UKWK berupaya mendorong mahasiswa binaannya menjadi akuntan yang professional. Hal ini selaras dengan tuntutan stakeholders salah satunya adalah organisasi profesi IAI dengan terus mengembangkan kemampuan akademik dan softskill mahasiswa. Sebagai salah satu upaya pengembangan tersebut, Prodi Akuntansi UKWK mengikutsertakan perwakilan mahasiswa dalam kegiatan APA CHAMP 2019.

“Proses untuk mengikuti lomba ini diseleksi sangat ketat dan menantang”, ujar Bella salah satu perwakilan mahasiswa akuntansi yang mengikuti APA Champ 2019. Lebih lanjut Bella menjelaskan, “Kami diseleksi dari mahasiswa akuntansi yang lain dan akhirnya terbentuklah tim untuk mewakili Mahasiswa Akuntasi untuk mengikuti APA Champ 2019 ini. Prosesnya sangat lama, kami mendapatkan bimbingan teknis serta unggah video sebagai salah satu persyaratan untuk pendaftaran. Setelahnya kami mengikuti seleksi tingkat wilayah (21/8) di Surabaya lalu, kami berhasil lolos dalam babak semifinal dan final (3/9) yang diadakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI)”.

Peserta dari UKWK berfoto bersama Wakil Menteri Keuangan RI (Prof. Dr. Mardiasmo)

APAFest 2019 dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI/Wakil Menteri Keuangan RI, Prof. Mardiasmo, serta menghadirkan narasumber terkemuka di antaranya, Helmy Yahya (Direktur Utama TVRI), anggota DPN IAI, pengusaha dan praktisi bisnis. Keikutsertaan Tim Accounting Warrior belum mendapat Juara sehingga tahun depan mereka memiliki Motivasi untuk menjadi Juara dalam APA Champ tahun selanjutnya. -VR17-

            Semangat!!! Semoga Tahun depan menjadi lebih baik.

Food Diversification Competition “Assorted Corn-Based Dishes” at Widya Karya Catholic University of Malang

The food diversification competition has been held for six times in six consecutive years and has been met with enthusiastic participation by various high schools.  The competition, which was attended by students from various high schools and vocational schools in Malang, was slightly different from previous years. Participants had to pass through a selection stage of competition proposals on February 24, 2018, and afterwards took part in the food processing competition stage on March 3, 2018.

Taking the theme “Assorted Corn-Based Dishes”, the competition had the main objective of creating innovative processed foods of corn. Furthermore, this competition aimed to explore the potentials of Malang high school students in creating new dishes, as well as to explore the local food potential in replacing the main staple food, i.e. rice. Corn is known as a carbohydrate-producing food source, occupying second position after rice.

All this time processed corn has been only used as steamed food or re-processed as snacks with low sale value. This competition was expected to increase the economic value of various local food products, including corn.

On Saturday, March 3, 2018, this annual event was officially opened. Despite the threat of the clouded skies over Malang, participants remained enthusiastic in competing to create corn-based dishes with spectacular flavor different from regular corn-based dishes. This year’s competition had fifteen participants from nine high schools in Malang, after the other four were declared failed at the proposal selection stage.

SMKN 13 Malang sent two teams, SMKN 3 Malang sent 2 teams, SMK Kartika IV-1 Malang sent 2 teams, SMAK Frateran Malang sent 2 teams, SMK Shalahuddin 1 Malang sent 1 team, SMK Prajnaparamitra Malang sent 2 teams, SMA Tumapel Malang sent 1 team, SMA Laboratorium of the State University of Malang (UM) sent 1 team, and SMA Taman Harapan Malang sent 1 team.

Widya Karya’s Faculty of Agriculture, as the organizer of the annual event of food diversification competition, expected that the event would increase the society awareness in reducing dependence on rice consumption and switching to rice substitutes. To date Indonesian people are still depending on rice. Eventually, this event is expected to contribute in enhancing the national economic development and society welfare through a variety of creative food innovations, and to enhance Indonesia’s food security.

In this food diversification event SMA Laboratorium UM won the first place, SMK Kartika IV-1 won the second place, and SMKN 3 Malang won the third place. The committee acknowledges UPT PK PPTKLN (Poverty Alleviation Program’s Training Center) Wonojati, Singosari District, Malang Regency, represented by Mr. Suwanto, S.TP., M.Agr. and Ms. Jinarti, S.TP., as the judges in the 2018 competition. In addition, the committee would also like to thank all participants as well as others who had assisted in this event.

This event was greatly invigorated by the cheering competition spontaneously held by the supporters, as well as by entertaining performances of student bands comprising members of the Art Activity Unit and students of the Faculty of Agriculture.

The Students Union of UKWK Faculty of Law Participated in the National Congress of the Association of Indonesia’s Students of Law (ISMAHI)

The Students Union of the Faculty of Law of Widya Karya Catholic University had the opportunity to attend a national seminar and congress held by the Association of Indonesia’s Students of Law (ISMAHI). The event was held on 6-8 November, 2017, at Pancasila University’s Faculty of Law in Depok.

The event was divided into two sections: the National Seminar and ISMAHI Congress. The National Seminar was opened by Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. as the Chief Justice of the Constitutional Court. In his opening speech, Mr. Hidayat stated that Indonesian laws had to serve the nation and the state. He further explained that law had a vertical responsibility in creation and enforcement. Therefore, law enforcement in Indonesia was the life foundation for all Indonesian people, based on Pancasila. After the speech, the national seminar was divided into four sessions with four professional speakers. The first session was headed by Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S. H. (Chair of the Judicial Commission of the Republic of Indonesia), with the theme of Law Enforcement in the Reform Era. The second session was headed by the Senior Commissioner of the Police, Dr. (C) Andry Wibowo, S.IK, M.H., M.Si., with the theme of Law Reform (Critical Thinking in an Integralistic Country). The third session was headed by Dr. Armansyah Nasution, S.H., M.H., with the theme the Grand Design of the Reform of Indonesian Criminal Law. The last session was headed by Prof. Dr. Andi Hamzah, S.H., discussing Responses to the Draft of Criminal Law.

The second day of the event, on November 7, 2017, was the start of the climax of the event, the ISMAHI Congress. On this second day two plenary sessions were held; the first plenary session discussed the congress agenda and rules, as well as the election of the session presidium. Sally Octavia, the Chair of the Students Union of UKWK’s Faculty of Law, was elected as Presidium III of the plenary, acting as both the secretary and minute-taker of the sessions. The next session discussed the ISMAHI Central Board’s Accountability Reports and Commissions Sessions. At this session, three commissions were formed to discuss three special themes: Commission A to discuss the organization’s Articles of Association; Commission B to discuss the organization’s Outline of Missions; and Commission C to discuss external and internal activities. The results of the commissions’ discussions would be used as a working recommendation for ISMAHI. The second-day plenary session was ended at 1 A.M. West Indonesia Time.

On the third day, on November 8, 2017, the event was begun at 11 A.M. with the agenda of plenary sessions III and IV. The agenda of plenary session III was to discuss and determine the results of plenary session II. Plenary session III used dialogue to agree upon the results, in which voting was utilized as a last resort if there was a deadlock in the dialogue. After the results had been agreed, plenary session IV was held. The agenda of plenary session IV consisted of four agendas: (1) discussion and establishment of electoral procedures of ISMAHI national council and central board for the period of 2017-2019; (2) election of ISMAHI national council for the period of 2017-2019; (3) election of ISMAHI central board for the period of 2017-2019; and (4) election and appointment of ISMAHI leadership for the period of 2017-2019. At this session, 7 candidates to ISMAHI national council for the period of 2017-2019 were submitted, and at the end Yoga Yusdiadi from West Java was elected.

The ISMAHI Congress was a national congressional invitation extended to the Students Union of the Faculty of Law of UKWK. By participating in the National Congress, the Students Union expected to create wider networks within the national scope for the students’ self-development and Union development. The results of the Congress were expected to boost cooperation between Students Unions at the local, regional, and national levels to develop the science of law. All of this is in accordance with the motto of the Students Union of UKWK’s Faculty of Law: “Yudha Pratidina”. Salam Scientia Ed Laborem.

(E.R.D)

INDONESIA DEAN’S COURSE FOR PRIVATE HIGHER EDUCATION IN INDONESIA

Surabaya, 5-8 February 2018

Introduction

Widya Karya Catholic University (UKWK) had the opportunity to participate at Indonesia Dean’s Course for Private Higher Education in Indonesia (INADC-PHEI) workshop held from 5 to 8 February, 2018, at Gubeng Santika Premiere Hotel, hosted by Surabaya University.

The workshop was really an insight and knowledge opener. It was a great opportunity to learn from the facilitators and fellow participants from 24 private universities from all over Indonesia, of various forms, quality and experience. The workshop committee had selected 25 private universities from about 50 applicants.

Selected prospective participants had to send proposals in English because the texts would be reviewed by German: Deutscher Akademischer Austauschdienst or German Academic Exchange Service (DAAD). The program was a collaboration between the Ministry of Research and Higher Education and Germany. All participants were subsidized by DAAD, excluding transportation fee from their home base to the workshop location.

The workshop was divided into two stages: the first (part 1) was held on 5-8 February, 2018; the second (part 2) would be held on 21-23 May, 2018, hosted by Pembangunan Jaya University in Bintaro, Banten Province.

WORKSHOP

The workshop had a very busy schedule, from 8 A.M. until 5 P.M. without the customary afternoon nap. The materials provided included: Higher Education System (HES), Human Resource Management (HRM), Financial Management (FM), Research Management (RM), and Project Management (PM).

The facilitators were all experienced professionals: Dr. Mrs. Illah Sailah, M.S. (Coordinator of the Cooperative of Private Higher Education Institutions, Area III), Ms. Leenawaty Limantara, M.Sc., Pd.D. (Rector of Pembangunan Jaya University of Bintaro), Mr. Tatas H. P. Brotosudarmo, Dipl.Chem., Ph.D. (Director of the Center for Higher Education Outstanding Science and Technology and Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments), and Mr. Nemuel Daniel Pah, Ph.D. (Vice Rector I of Surabaya University).

The workshop’s dynamics were so interesting and varied not a single participant became bored or drowsy. After the smashing boundaries segment, all participants and facilitators socialized as if they had known each other for years. This friendly atmosphere lasted until the very end. Even to the time of the writing of this article, the Whatsapp group is still active and genial.

The workshop method: presentations by the facilitators (15-20 minutes long) in the form of explanation and games, short group discussions (10-15 minutes), group presentation (5 minutes for each group), responses by facilitators and other participants, and peer-counseling for concrete cases submitted by each participant in each group. On Monday, 5 February, participants were given the opportunity to observe Surabaya University to assess the various facilities, processes, services, and activities within the campus ground.

Closing

As one of the participants of the workshop, the rector of UKWK has made a PAP on Human Resource Management which would be presented to UKWK lecturers and educational staff to be implemented. If this is achievable, it is expected that there would be changes in UKWK toward better conditions and performance quality.

Therefore, all lecturers and educational staff are expected to study the PAP carefully and give their entire support and participation to make it successful.

Salam Scientia ad Laborem

Malang, 8 Februari 2018

Albertus Magnus Herwanta, O.Carm., M.A.

Rektor

Construction of 3000 watt Micro Hydro Power Generator at Niwak Village, South Borneo

Electric power is one of national developments prioritized by the government under President Joko Widodo, requiring an investment of IDR 1.035 trillion of the total National Strategic Project (NSP) which amounts to IDR 4.197 trillion. Given this amount of money, contributions from private institutions are expected.

The Diocese of Banjarmasin, via the Commission for Actual Work chaired by Mr. Willy Sebastian, has participated in the national development scheme, in particular in the 9.5 years old Meratus Dayak Development Program in South Borneo. The aim of this project is to elevate the dignity of the Meratus Dayak tribe through developments in education, healthcare and socio-economy. One of the villages under development is Niwak Village; this village is located on the slopes of Meratus mountain range with very limited road access and far from the reach of the government’s development programs. However, the village’s elevated location provides a few water potentials for hydroelectricity. Therefore, following a letter requesting for adept technicians to design and construct a hydropower plant, a collaborative agreement was agreed upon between the Diocese of Banjarmasin’s Actual Work Commission and Widya Karya Catholic University.

In August 2017, Mr. Harsa Dhani from Widya Karya’s Department of Mechanical Engineering visited Niwak Village to conduct a survey on local needs and the potentials of the existing water supplies. The village residents comprised 12 households that each required 200 watts of electricity for lighting, television and refrigerators; approximately 2400 watts of electricity was therefore needed for the whole village. Afterwards, a field survey was conducted at some potential points and a river point was found to be capable of producing about 3000 watts.

Next, a power plant was designed with a dam to stabilize water flow, a penstock to control water flow, a pump-turbine, a synchronous generator, a turbine house, and a panel. The construction pieces were transported to the village and carried to the waterfall location. The Niwak villagers steadfastly participated in funding and transportation; during the construction one villager transported cement for the dam on a motorcycle and fell in a ravine while passing through a narrow path, but thanks to God, he was not seriously injured and only suffered minor scratches.  It also took extra efforts to transport the 300-kilogram turbine and generator to the site, and the penstock had to be carried manually. We can see here God’s wonderful providence for those who are willing to seek His aid and rely to Him.

The micro hydro power generator system operates as thus: water collects within the dam until its flow stabilizes, then it is passed through penstocks (pipelines) to the turbine. Water pressure rotates the turbine on its axis which is connected to the generator. The rotation of the turbine rotates the generator, which in turn produces electricity.

This project has been completed successfully and now villagers can enjoy 3000 watt electricity, free of charge and free of pollution. School children can study at their homes until dusk. On March 18, 2018, the “Niwak” micro-hydro-electricity was launched by Mgr. Bishop Petrus Boddeng Timang, attended by elders of Niwak Village and other surrounding villages, Police Sector Chief Mr. Andre, Military Territory Command Mr. Yohanes, Chairman of Actual Work Commission Mr. Willy Sebastian, Mr Harsa Dhani of Widya Karya, and other guests from Niwak Villages and surrounding villages.

Salam Scientia Ad Laborem