Surabaya, 20–22 November 2025 — Sejumlah mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Karya mengikuti kegiatan APTIK Regio Timur selama tiga hari yang membawa perubahan pandangan: dari pemahaman diri, empati, hingga strategi menangani masalah sosial kompleks seperti PKL dan kasus bunuh diri. Kegiatan yang berlangsung intensif ini menekankan bahwa perubahan transformatif dimulai dari kesadaran diri, integritas, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Dari canggung menjadi berbagi: membuka ruang empati
Kegiatan dibuka di Aula Widya Kartika Surabaya dengan sesi perkenalan yang awalnya canggung karena peserta berasal dari berbagai kampus dan daerah. Namun suasana cepat mencair ketika para peserta mulai berbagi cerita pribadi — dari kebahagiaan hingga luka terdalam. Cerita-cerita itu membuka mata peserta bahwa penampilan ceria sering menyembunyikan pergumulan batin.
Penguatan diri: menjadi agen perubahan dimulai dari diri sendiri
Materi pertama disampaikan oleh Ibu Dr. Yohana Titik Kristiyani, M.Psi., Psikolog (Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) dengan topik “Penguatan Diri Sebagai Agen Perubahan Transformatif”. Ia menegaskan pentingnya mengenal dan menerima kerentanan diri, serta menjaga integritas — jujur dan tulus dalam bertindak — sebagai dasar agar upaya perubahan tidak merusak diri maupun orang lain.

Role model dan keberanian kepemimpinan
Sesi kedua oleh Agustinus Widyaputranto, M.Si. menyorot pentingnya role model dalam membentuk identitas kepemimpinan. Ia mencontohkan figur-figur seperti Yesus dan Paus Fransiskus (referensi: Christus Vivit) sebagai teladan yang hidup dekat dengan kaum muda — sebuah pegangan baru bagi mahasiswa yang ingin menjadi agen perubahan.
Teknik analisis masalah sosial: Onion & Teori Sistem
Hari kedua dipenuhi pembelajaran analitis oleh Dr. F.V. Lanny Hartanti, S.Si., M.Si. (Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya) dan Dr. Siswanto, M.Si. (Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang). Mereka memperkenalkan Teknik Onion dan kerangka Teori Sistem (mikro, meso, makro) untuk mengurai akar masalah sosial. Contoh kasus yang dibahas adalah fenomena bunuh diri—kasus yang tampak jelas di permukaan namun menyimpan lapisan penyebab yang sangat mendalam.
> “Seperti dokter, dia tidak akan memberikan obat jika dia tidak tahu diagnosis penyakitnya. Kalau pun masih ragu, dia akan berkata: minum dulu, jika efeknya tidak berubah sampai dua hari datang kembali.” — Dr. Siswanto
Turun lapangan: memahami kompleksitas hidup PKL

Sore hari, peserta turun ke lapangan untuk melakukan observasi dan wawancara. Kelompok dari Universitas Katolik Widya Karya mengkaji fenomena Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menempati jalur transportasi. Dari dialog langsung dengan para pedagang muncul jawaban berbeda dari dugaan awal: pilihan hidup dan tekanan ekonomi keluarga, biaya sewa yang tinggi, pendapatan tak menentu, hingga kebijakan publik yang kurang berpihak.
Salah satu pedagang menyampaikan:
“Kami tahu kami melanggar, tapi tekanan ekonomi keluarga membuat kami tak punya pilihan lain.”
Analisis lapangan menguatkan pemahaman bahwa tindakan yang tampak sebagai pelanggaran seringkali merupakan strategi bertahan hidup akibat ketidakadilan sistemik.
Refleksi kampus dan komitmen aksi setelah pulang
Pada hari ketiga muncul pertanyaan penting: Apa yang dilakukan setelah kembali ke kampus? Peserta menyoroti perlunya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di lingkungan akademik, serta cara konkret membangun budaya empati di kampus. Diskusi memunculkan gagasan bahwa perubahan harus dimulai dari komunikasi konsisten, keteladanan, dan upaya meyakinkan orang yang nyaman dalam status quo agar mau berubah.
Kesimpulan: kehadiran kecil, dampak besar
Kegiatan APTIK Regio Timur ini menegaskan bagi peserta dari Universitas Katolik Widya Karya bahwa perubahan transformatif bukan hanya aksi besar, melainkan rangkaian tindakan kecil yang lahir dari kepekaan hati, integritas, dan empati. Mendengarkan, hadir, dan memberi perhatian tulus dapat menyelamatkan dan mengubah hidup seseorang—sebuah pelajaran penting bagi mahasiswa yang ingin menjadi agen perubahan di masa depan.

