
Para Wakil Rekor 1 dan Koordinator MKU dari 23 Perguruan Tinggi Katolik se-Indonesia berkumpul di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM). Kehadiran mereka ke tempat tersebut untuk mengikuti Workshop Rekostruksi & Rebranding MKU Perguruan Tinggi Aptik. Acara yang diselenggarakan oleh JPA (Jaringan Pembelajaran Aptik) tersebut berlangsung mulai Kamis–Sabtu, 14–16 Agustus 2025. Adapun utusan dari Unika Widya Karya yang hadir dalam workshop tersebut adalah Dr. Agustinus Indradi, M.Pd selaku Koordinator MKU.

Pada sesi pertama di hari pertama, Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si., Rektor Unika Soegijapranata Semarang yang sekaligus sebagai Koordinator JPA menyampaikan materi pengantar dengan tema “Dari Perutusan Turun Ke Pengajaran”. Setelah itu, pada sesi kedua, materi disampaikan oleh Rm. Dr. Krispurwana Cahyadi, SJ dengan tema “Perguruan Tinggi Katolik, ASG, dan Pedagogi Kritis”. Adapun materi ketiga yang juga menjadi materi pengantar untuk berdiskusi para peserta workshop disampaikan oleh mantan Rektor Universitas Sanata Dharma, yaitu Bapak Johanes Eka Priyatma, MSc, Ph.D. dengan tema “Pedagogi Kritis untuk MKU APTIK”.

Materi dan diskusi dalam kegiatan workshop berkaitan dengan pembelajaran MKU (Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan mungkin juga MKU muatan khusus di perguruan tinggi) harus bisa mengajak mahasiswa untuk secara kritis menyikapi persoalan sosial, politik, budaya, dan moral bangsa dengan mengasah kemampuan berpikir kritis, membangun komitmen, serta mengambil sikap dan aksi untuk mengatasi persoalan bangsa tersebut.

Intinya, melalui MKU yang oleh sebagian mahasiswa sering dianggap tidak terlalu penting tersebut sungguh mampu mengantar mahasiswa, untuk bisa menjadi wahana pembentukan karakter mahasiswa agar menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan keberpihakan pada yang miskin dan tersingkirkan. Dalam konteks Indonesia yang penuh ketimpangan, kekerasan struktural, dan krisis ekologis, melalui MKU bisa digunakan sebagai alat formasi dan transformasi, mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam menciptakan perubahan sosial yang berpihak pada kemanusiaan dan keutuhan ciptaan

Mengawali workshop hari ketiga, ada Misa Harian yang dipimpin oleh Rm. Godlif Sianipar SS, MA, Ph.D dari Unika St. Thomas Medan. Dalam kotbahnya, sesuai dengan tujuan kegiatan tersebut, beliau menyampaikan pesan berdasarkan teori tokoh pendidikan dari Brasil yaitu Paulo Freire tentang pentingnya memiliki konsientisasi batin. Pendidikan harus mampu meningkatkan kesadaran dan pemahaman seseorang secara kritis tentang situasi sosial, politik, ekonomi, atau budaya yang mempengaruhi kehidupan mereka serta mampu memberikan alternatif solusinya.

Acara hari ketiga diakhiri dengan diskusi dan presentasi hasil diskusi tentang langkah-langkah konkret terkait muatan dan metode pembelajaran MKU dari masing-masing Perguruan Tinggi Katolik anggota APTIK.
(Aind.)
