Studi banding yang dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2025 antara BEM Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Karya yang dipimpin oleh Gubernur BEM FH UKWK Angela Diana Permatasari dan KOMUTASI UAJY yang diketuai oleh Michael Halim menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan dua organisasi mahasiswa lintas kampus dengan semangat yang sama: membangun integritas, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Acara dimulai dengan pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan, serta sambutan dari para perwakilan institusi. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Hukum UKWK, Dr. Diah Imaningrum Susanti, S.H. M.Hum., M.Pd. menekankan pentingnya integritas akademik, moral, dan religius sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter mahasiswa hukum.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan presentasi profil masing-masing organisasi yang menampilkan program unggulan seperti Justitia Voice dari BEM FH dan Pesta Oligarki dari KOMUTASI UAJY yang menjadi media edukasi antikorupsi. Gubernur BEM FH UKWK, Angela Diana Permatasari, dalam pemaparannya menjelaskan peran Justitia Voice sebagai wadah ekspresi seni dan menjalin kebersamaan antar mahasiswa hukum, sementara Ketua KOMUTASI UAJY, Michael Halim, menjelaskan bahwa Pesta Oligarki dirancang untuk menyentil sekaligus menyadarkan publik terkait bahaya laten korupsi dalam kehidupan bernegara.


Sesi diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Dalam diskusi, pertanyaan penting yang diajukan untuk BEM FH adalah bagaimana BEM FH UKWK menyikapi potensi perseteruan dalam pelaksanaan Forum Komunikasi Fakultas Hukum. Sementara itu, terkait Justitia Voice, peserta dari UAJY tertarik untuk mengetahui mekanisme perekrutan anggota, pelatihan vokal, hingga strategi untuk bisa mengisi koor di paroki-paroki. keberlanjutan kegiatan paduan suara tersebut
Selain itu, dibahas juga strategi BEM FH untuk mengajak mahasiswa lebih aktif berorganisasi, terutama di tengah maraknya fenomena “mahasiswa kupu-kupu”, seperti dengan mengajak mereka bergabung dalam Justitia United Futsal Club.
Dari pihak KOMUTASI, peserta tertarik pada cara organisasi ini menarik minat mahasiswa untuk terlibat aktif dalam isu-isu antikorupsi. Terungkap bahwa branding organisasi melalui kegiatan edukatif seperti diskusi publik, road to school, dan talkshow HAKORDIA menjadi pintu masuk menarik bagi mahasiswa. Kemudian, pertanyaan untuk KOMUTASI UAJY mengenai sejarah dan inspirasi nama “KOMUTASI” dijelaskan bahwa nama tersebut merujuk pada transformasi sosial melalui gerakan antikorupsi—mengapa korupsi dipilih, karena ia dianggap sebagai akar dari banyak kejahatan sistemik lainnya. Pertanyaan kedua mengenai tantangan utama yang dihadapi organisasi dan bagaimana penyelesaiannya, dijawab bahwa kejenuhan anggota dan kurangnya partisipasi aktif dapat diatasi dengan pendekatan kekeluargaan dan program internal seperti healing. Namun tantangan yang lebih sulit adalah tantangan eksternal, yang menurut mereka hanya bisa dihadapi dengan menyatukan visi, misi, dan tujuan bersama dalam organisasi.
Dalam sesi narasumber bersama Parou Paskalis Sitanggang, S.H., M.Hum., peserta mendapatkan perspektif luas mengenai peran mahasiswa hukum dalam situasi politik dan pemerintahan saat ini. Ia menyampaikan bahwa sinergitas dan integritas harus selalu dipegang teguh, namun pada saat yang tepat juga harus ada kata “cukup” untuk bersikap terhadap ketidakadilan.

Kegiatan ini ditutup dengan persembahan dari Justitia Voice yang menyanyikan lagu Semua Karena Cinta, dan diakhiri dengan menari serta bernyanyi bersama seluruh peserta, menandai semangat persaudaraan dan kolaborasi antarkampus yang erat.
(Angel Diana)

