Kabar UKWK

UNIKA WIDYA KARYA IKUT MENGISI ACARA MPLS DI SMAK YOSUBA

Seperti kebanyakan sekolah di saat-saat ini dengan kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), demikian juga SMAK Yos Sudarso Batu (SMAK Yosuba). Kegiatan MPLS tersebut dilangsungkan pada tanggal 14-17 dan 21 Juli 2025. Selasa, 15 Juli 2015, Unika Widya Karya diundang untuk ikut memberi materi dengan tema yang disodorkan adalah “Etika Digital dan Anti Perundungan”. Unika Widya Karya merespon positif undangan tersebut dengan menugaskan team untuk mengisi acara tersebut. Surat Tugas Rektor Nomor: 028/Unika/Tgs/Q/VII/2025 menugaskan: (1) Dr. Agustinus Indradi, M.Pd. (2) Saverius Dhuri Mbipi, S.Ak., M.Ak., dan (3) Hendrikus Nendra Prasetya, S.P., M.Si.

Pada kesempatan tersebut kepada seluruh peserta MPLS Bapak Saver mengingatkan anak-anak untuk senantiasa ber-sosmed dengan bijak, pintar, santun, dan bertanggung jawab. Jangan sampai karena pemanfaatan sosial media akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai menyebarkan berita bohong atau menjelek-jelekkan orang lain melalui media sosial. Siswa Kelas X SMAK Yosuba juga diingatkan agar berhati-hati dalam meninggalkan jejak digital.

Terkait dengan Anti Perundungan, Bapak Hendrikus menjelaskan terdapat 3 komponen yang perlu diperhatikan, yaitu korban, pelaku, dan saksi. Kalau ada yang merasa mendapat pembulian jangan hanya diam saja, tetapi harus berani bicara. Korban perundungan bisa bicara dengan guru, orang tua, maupun kepada sahabat. Untuk konteks tersebut, Bapak Agus melalui peragaan dua korek api yang sama-sama bisa menyala, tetapi ketika salah satu jatuh ke air tidak akan bisa menyala lagi. Namun dengan bantuan korek lain yang didekatkan, akhirnya korek yang tercebur air pun bisa menyala kembali. Maka, itu lah pentingnya memiliki teman atau komunitas. Saat seseorang punya masalah tidak boleh hanya dipendam sendiri. Pak Hendrikus juga mengingatkan apabila ada dari mereka yang menjadi saksi perundungan, harus berani mendorong korban untuk melaporkan kejadian tersebut. Jangan sampai hanya diam saja. Diam saja berarti mendukung perundungan untuk terus berkembang.

Christina, siswi asal Wamena penuh percaya diri ketika mendapat pertanyaan terkait materi yang baru diberikan. Karena ternyata jawaban Christina benar, maka kepadanya diberi hadiah uang yang sebelumnya ada sulapan yang mengubah kertas koran menjadi uang. Di akhir sesi diputarkan video dari Bapak Uskup Malang, Mgr. Henrikus Pidyarto Gunawan, O.Carm yang mengenalkan Unika Widya Karya dan mendorong keluarga-keluarga Katolik untuk memercayakan pendidikan putra/putrinya di Unika Widya Karya Malang yang bukan hanya menekankan hal-hal yang akademis, tetapi juga yang berakitan dengan karakter yang baik.

(Aind)